Selain Penampakan Pocong, Kedungwaru Kidul Demak Sangat Bersejarah

Masjid Agung Demak

Akun Tarbis Wibowo di Instagram @artbiz360 mendadak viral. Pasalnya, setelah mengambil foto 360 derajat di kampung halamannya di Desa Kedungwaru Kidul, Demak, yang ditangkap Google Maps dan ditandainya sebagai lokasi penampakan pocong. Tentu saja postingan ini menjadi viral di media sosial. Kеdungwаru kidul іnі ѕаlаh ѕаtu Desa уаng tеrlеtаk dі Kecamatan Kаrаngаnуаr Kаbuраtеn Demak, Jawa Tеngаh, Indоnеѕіа.

Sejarah Kedungwaru Kidul, Demak


Raden Saputro merupakan satria mataram islam keturunan Raden Hartyo Tirti Negoro dengan Raden Anjer Widoro. Ia memiliki dua saudara yaitu raden Wiro dan Raden Handoko. Pada awal mulanya Raden Saputro menuntut ilmu dimulai dari kesultanan mataram islam kemudian dilanjutkan menuju ke Jepara dengan tujuan untuk memperdalam ilmu agama islam. Di Jepara Raden Saputro menimba ilmu agama (mondok) tepatnya di pulau Karimun Jawa, disana beliau diasuh oleh Raden Mangku Rekso. Di pesantren Raden, Mangku Rekso juga sering dipanggil dengan nama Kyai Khambali, Ramikasan atau Sunan Nyampung di pulau Karimun Jawa.

Baca juga : Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
Setelah menuntut ilmu Raden Saputro ijin dan meminta doa restu kepada eyang sunan nyamplung untuk menjalankan perjalanan lagi menuju Demak Bintoro. Dalam perjalanan Raden Saputro melawati sungai lusi serang yang sangat panjang. Beliau merasa nyaman dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke Demak Bintoro dan ia pun singgah di tepi sungai lusi serang tersebut.

Pada awal mulanya pinggiran sungai lusi serang itu masih berupa hutan yang belum pernah dijamah oleh manusia dan akhirnya Raden Saputro memutuskan untuk membabat alas hutan tersebut. Setelah dibabat alas yang dulunya adalah hutan sekarang sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi ladang dan sawah yang sampai akhirnya ditempati oleh warga mataram islam "Sentono Dalem" hingga akhirnya diberi nama "Kedungwaru Kidul".

Makna dari kedung yaitu Jero Segoro Jembar sedangkan yaitu Wewaro (pengerti sing diluru) dan arti dari kidul adalah Keimaan Luhur Wekasan. Lambang kejayaan adalah pohon waru. Kenapa harus pohon waru ? karena pohon waru merupakan pelindung dari sinar matahari.

Goa Kreo
Sejumlah wisatawan mengunjungi Goa Kreo, di Desa Kandri, Gunungpati, Semarang, 24 Desember 2017. Selain sebagai wisata alam, goa dengan kedalaman 25 meter merupakan objek wisata sejarah yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak.

Namun ternyata Demak, bukan hanya Kedungwaru Kidul yang sedang sensasional saat ini karena telah viral adanya penampakan pocong. Kota kecil di pesisir pantai utara Jawa ini, merupakan kota bersejarah. Tempat dimana para Wali Songo membesarkan Kesultanan Demak pada abad ke-15, sekaligus merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Demak juga menjadi pusat penyebaran Agama Islam saat itu. Peninggalan Kesultanan Demak kini menjadi destinasi wisata religi yang bersejarah.

Wisata bisa dimulai dari Masjid Demak, yang dibangun oleh Raden Fatah salah seorang Pangeran Majapahit yang meninggalkan Majapahit. Murid dan sekaligus keponakannya Sunan Ampel yang mendirikan Kadipaten Demak beserta para wali, untuk menyebarkan agama Islam.

Pembangunan Masjid Agung Demak seluruhnya menggunakan konstruksi kayu jati. Konon katanya bangunan ini hanya selesai dalam sehari. Mengagumi bangunan dengan konstruksi kayu, tidak lengkap juga bila belum mengunjungi Museum Masjid Agung Demak nya.

Museum terletak masih berada di area kompleks Masjid Agung Demak atau masih di dalam lingkungan alun-alun kota Demak. Museum ini hanya berukuran 8 m2 namun, memiliki koleksi sejarah mengenai penyebaran Islam di Demak.

Di Demak terdapat juga makam Sunan Kalijogo, seorang wali sekaligus penggubah wayang purwo yang mengadaptasi lakon-lakon Mahabarata dan Ramayana. Sunan Kalijaga seorang bangsawan Gresik itu, mampu menerjemahkan Islam dan membumikannya dalam keseharian masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga termasuk salah satu dari Sembilan wali yang mendukung Kesultanan Demak.

Baca juga : Fenomena Gerhana Matahari Total Juli 2019
Lokasi Demak yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini, memungkinkan pengembangan wisata berbasis pantai. Salah satunya wisata hutan mangrove atau hutan bakau. Lokasinya berada di Desa Sayung, Bedono, Demak.

Ribuan hektar pohon bakau dan ratusan macam jenis burung hidup di kawasan tersebut. Dahulu, kawasan tersebut sangat rentan abrasi. Keberadaan hutan bakau itu menjadi tanggul alami sekaligus tempat berkembang biaknya berbagai ikan dan hewan-hewan lain. Di kawasan taman mangrove ini terdapat sebuah makam apung Syekh Mudzakir, seorang ulama dan pejuang kemerdekaan dari Demak.

Sementara di pantai terdapat hutan bakau yang asri, di Desa Kebonbatur, Mranggen terdapat tiruan Grand Canyon mini layaknya di Amerika Serikat. Bedanya, bila Grand Canyon ngarai bertebing-tebing hasil kerja alam, Brown Canyon Demak merupakan bekas lahan penambangan batu padas.

Destinasi wisata lainnya adalah Desa Wisata Tlogoweru. Sebagaimana desa pada umumnya, sawah hijau nan subur menjadi pemandangan utama. Namun, istimewanya, di Desa ini memiliki 200 burung hantu.

Burung-burung tersebut ditangkarkan untuk memburu tikus, hama tanaman padi. Memang, pemeliharaan burung hantu itu bermula karena masyarakat desa sudah kesal dengan tikus-tikus yang merusak tanaman padi mereka.

Ketika liburan ke Demak, jangan dilewatkan untuk mampir ke sentra batik Demak. Batik Demak yang masih menganut genre batik pesisir, yang didominasi oleh warna-warna cerah. Tidak sulit untuk mendapatkannya, pasalnya banyak sentra batik Demak, antara lain di Desa Wedung, Desa Karangmlati, Desa Wedung, Dempet, Bonang, Kauman, Kelurahan Mangunjiwan, Kelurahan Bintoro dan Kelurahan Kadilangu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Selain Penampakan Pocong, Kedungwaru Kidul Demak Sangat Bersejarah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel